Chapter 2. Ummi


Ibuku dulunya seorang guru TK di sekolah Al-Azhar, sekolah yang sampai hari ini masih dikenal sebagai salah satu yang bergengsi. Jika aku harus mendeskripsikannya dalam satu kata, mungkin “independent woman” adalah yang paling tepat. Ibuku adalah anak kedua dari tujuh bersaudara, sekaligus anak perempuan pertama. 

Funfact, ibuku kembar identik, namun karena dia yang lebih penurut, jadi sejak kecil, ia sudah terbiasa menjadi “ibu” bagi adik-adiknya. Nenekku sering sakit-sakitan, sementara kakekku, mantan ABRI, harus bekerja sebagai TKI di Arab Saudi. Dalam kondisi seperti itu, ibuku tumbuh menjadi pribadi yang tegas, aktif, perfeksionis, dan seperti banyak kisah anak perempuan pertama terbiasa mengalah demi keluarga.

Keadaan ekonomi membuatnya tidak bisa melanjutkan pendidikan hingga S1. Ibuku hanya sempat menempuh D1 PGTK, yang menjadi bekalnya untuk langsung bekerja. Pada tahun 2001, ibuku menikah dengan ayahku. Ketika ditanya, “Kenapa saat itu ummi memutuskan untuk menikah?” 

Karena saat itu keadaan memang menuntutnya begitu. 

Usianya saat itu 26 tahun, di masa itu, usia tersebut sudah sering dilabeli sebagai ‘perawan tua’. Ditambah lagi, kakekku jarang pulang ke Indonesia karena bekerja di Arab Saudi. Sebelum beliau kembali berangkat, ibuku harus segera menikah agar bisa dinikahkan langsung oleh ayahnya sendiri. Maka, siapapun yang dianggap memenuhi kriteria dan mendapat restu nenekku, itulah yang akan menjadi suaminya.

Bahkan, bisa dibilang ibukulah yang lebih dulu “melamar” ayahku secara tidak resmi. Lewat telepon wartel, dengan keberanian yang khas dirinya, ia berkata, “Jadi kamu mau menikahi aku atau tidak? Mumpung bapakku ada di rumah. Kalau mau, datang ke rumah. Kalau tidak, aku cari yang lain.”

Setelah menikah dan aku lahir, ibuku meninggalkan semuanya, karirnya, teman-temannya, dunianya sendiri, untuk membangun keluarga ini. Menikahi pria labil yang masih belum mapan secara ekonomi dan bahkan masih belum menyelesaikan kuliahnya di semester 14. 

Kenyataan setelah menikah memaksa ibuku bekerja serabutan, menjadi penjahit, tukang pijat, hingga pedagang. Padahal sebelumnya pekerjaannya sudah stabil sebagai guru TK, pekerjaan yang lebih mulia dan terhormat.

Pernah aku bertanya, “Apa pernah ummi menyesal meninggalkan semua kesuksesan itu demi menikah sama abi?”

Ibuku tersenyum, tapi bukan senyum manis atau mudah dibaca. 

“Kalau jujur… mungkin ada banyak hal yang ummi sesali tentang abi,” katanya pelan. “Tapi kalau tidak menikah sama abi, ummi tidak akan pernah bertemu kalian. Dan itu bikin semua pilihan ummi terasa benar, walaupun berat. Cita-cita ummi jadi seorang ibu, dan ummi benar-benar bahagia menjalani peran itu.”

Aku terdiam. Yang aku tangkap bukan tentang pernikahan itu sendiri, tapi tentang kenyataan yang lebih besar: ibuku memilih kami (anak-anaknya) sebagai jalan hidupnya. 

Ibuku meninggalkan dunia lamanya bukan karena terpaksa, tapi karena ia sendiri yang memilih.

Aku bertanya lagi, “Kalau waktu bisa diulang, apa yang ummi mau lakukan?”

Ibuku mengelusku, “Kalau waktu bisa diulang, ummi akan lebih berani buat mempertahankan kamu waktu bayi, supaya nggak gampang diminta sama Uti (ibunya ayahku). Ummi juga akan memilih menemanimu daripada kerja, biar masa golden age-mu lebih stabil. Tapi waktu itu, ummi nggak bisa melawan.”

Sekali lagi, ibuku menjadikan anak-anaknya sebagai pusat hidupnya, meski kadang dunia memaksa dia tak berdaya.

Aku pernah melihatnya sebagai ibu tukang ngatur, nyebelin, selalu punya opini tentang apa yang harus aku lakukan. Aku pernah melihatnya sebagai teman, bestie, bahkan sosok yang kadang terlalu jauh dari diriku sendiri. 

Tapi sekarang aku melihatnya utuh, sebagai seorang perempuan yang memilih jalannya sendiri, yang berjalan dengan pilihannya sendiri, sebagai ibu yang masih belajar dan yang menerima aku (mau tidak mau) karena aku bagian dari ciptaannya. 

She’s my creation. She’s not just my mom, she’s herself.

Dan seperti anak-anak lain, aku cuma berharap suatu hari ibuku bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat hidupnya, mengejar hal-hal yang dia suka, beli barang-barang mewah, menghamburkan uang ayahku… karena ya, she deserves it.


Komentar

Postingan Populer