Chapter 1. Intro
Namaku Nadiyatul Hanifah, 23 tahun. Dan hari ini, entah untuk yang keberapa kalinya, aku ingin mati.
Tapi sebagaimana manusia yang kelak mati akan meninggalkan nama, mungkin aku juga akan meninggalkan memoar ini. Supaya, kalau suatu hari nanti aku benar-benar hilang, setidaknya ada sesuatu yang bisa membuat orang mengenalku sedikit lebih dalam.
Simpelnya, kalau kamu bertanya pada teman-temanku, “Siapa Nadiya?” jawabannya cuma satu:
“Oh, dia orang baik.”
Hanya itu. Tidak kurang, tidak lebih.
Yap. Aku orang baik. Katanya.
Padahal faktanya, jadi orang baik tidak pernah benar-benar cukup untuk bertahan di dunia yang serba kapitalis ini. Dunia yang lebih menghargai pencapaian daripada ketulusan, lebih menghitung angka daripada hati.
But seriously… who am I?
Aku lahir di sebuah kota kecil bernama Purwokerto. Julukannya Kota Satria. Ada juga yang menyebutnya kota pensiun. Secara administratif, itu bahkan bukan kota, hanya sebuah kecamatan yang menjadi pusat dari Kabupaten Banyumas. Lucu, ya? Pusat, tapi bukan kota.
Aku lahir pada Minggu, 16 Juni 2002, di RS Ibu dan Anak Kartini, rumah sakit yang letaknya dekat alun-alun. Dari sepasang orang tua yang tidak sempurna, seperti kebanyakan orang tua lainnya, mungkin.
Dan sejak hari itu, dunia tidak pernah menungguku untuk siap, ia hanya berjalan, dan aku dipaksa ikut.

Komentar
Posting Komentar